Jumat, 11 Desember 2009

Zvonimir Boban


Zvonimir Boban adalah pesepakbola yang dikenal patriotis dan begitu dicintai publik Kroasia bahkan hingga saat ini. Pria kelahiran 8 Oktober 1968 ini memilih berseragam Kroasia ketika Yugoslavia pecah menjadi 6 negara. Boban bahkan berperan besar ketika Yugoslavia menjadi juara PD U-17 pada tahun 1987.
Puncak perjalanan karir Boban di timnas terjadi pada Piala Dunia 1998. Sebagai kapten tim, kolektor 51caps bersama timnas Kroasia ini berhasil membawa Kroasia menjadi juara ke-3 usai mengalahkan Belanda pada perebutan tempat ke-3. Prestasi tersebut sekaligus menjadi prestasi terbaik timnas Kroasia dalam ajang empat tahunan tersebut.
Cerita di level klub pun tak kalah mentereng. Memulai karir di Dinamo Zagreb. Boban menjalani debut pada usia 16 tahun dan sudah dipercaya menjadi kapten tim ketika usianya 19 tahun. Total 45 gol dari 109 penampilan berhasil dicatatnya dalam kurun waktu enam tahun.
Pertengahan musim 1991, Boban hijrah ke Serie A bersama AC Milan atas permintaan pelatih Milan kala itu, Fabio Capello. Usai dipinjamkan semusim ke Bari, Boban langsung menjadi pilihan utama di skuad Milan kala itu.
Olah bola dan teknik mumpuni, visi permainan, dan umpan terobosan yang mengagumkan menjadi ciri khasnya. Bersama bintang AC Milan yang lain seperti Ruud Gullit, Donadoni, dan Albertini, Boban meraih banyak kesuksesan diantaranya 4 scudetti serie A(1993, 1994, 1996, 1999); 3 Coppa Italia(1992,1993,1994); dan Liga Champion 1994.
Boban memutuskan gantung sepatu pada usia 34 tahun setelah dipinjamkan semusim ke Celta Vigo. Usai pensiun, Boban meneruskan kuliahnya di University of Zagreb dalam bidang sejarah serta memulai karir sebagai komentator

sumber: bolanews.com, wikipedia



Kamis, 24 September 2009

Doa Kiper Dibalas Gol



PARTAI unik terjadi di sebuah pertandingan amal di Brasil antara klub besar Corinthians lawan Rio Breto di Stadion Bahia. Striker Corinthians mencetak gol hanya setelah satu passing dari waktu kick-off. Ini merupakan gol tercepat dunia.

Cepat sekali? Ya. Seperti ritus sepak bola pada umumnya, semua pemain melakukan doa sebelum pertandingan. Doa berlangsung beberapa detik.

Karena dirasa cukup, sang wasit menanyakan kesiapan semua pemain dan hakim garis untuk memulai pertandingan. Karena terasa semua sudah siap, sang wasit pun meniup peluit tanda kick-off.

Rupanya, doa kiper Rio Breto, Senhor Isadore Irandir, begitu khusuknya. Dia bahkan melakukan doa dengan cara duduk. Pikirnya, masih ada waktu menyelesaikan bait-bait doanya.

Mungkin isi doanya, "Ya Tuhan, hindarkanlah gawangku dari kemasukan gol."

Priiiiiiit! Begitu suara peluit tanda kick-off. Striker Corintians, Roberto Rivelino, yang menerima passing kick-off, rupanya tahu Senhor Irandir masih kusyuk berdoa. Bola passing ke arahnya langsung dia tendang dengan kaki kiri ke gawang Rio Breto.

Kencang dan akurat. Swing..... Tepat melewati samping telinga Senhor Irandir. Sang kiper yang masih membaca doa pun kaget. Sebab, desingan di telinganya adalah bola yang menjebol gawangnya
"Oh Tuhan, inikah jawaban-Mu atas doaku?" mungkin begitu dia bergumam


sumber:kompas.com.

Kesialan Palermo, Keuntungan Villarreal



MARTIN Palermo memang jago pada akhir 1990-an. Striker Boca Juniors ini dianggap bintang baru Argentina. Namun, dia kemudian membuat catatan buruk dan membuatnya dianggap spesialis gagal penalti. Pada Copa America 1999, dia gagal saat melakukan tiga penalti dalam satu pertandingan. Akibatnya, Argentina pun kalah 0-3 dari Kolombia. Pindah ke Villarreal, dia pun tak kunjung menunjukkan produktivitasnya sebagai striker. Gol seolah jadi barang langka baginya. Maka, ketika mencetak gol di Copa del Rey saat lawan Levante, kegembiraannya meledak. Palermo langsung lari menuju kerumunan suporter The Yellow Submarines. Dia melompat dan mencoba bertengger di papan iklan. Celakanya, papan iklan itu ambruk dan dia pun ikut terjatuh. Sialnya, dia langsung cedera engkel dan tak bisa melanjutkan permainan. Palermo langsung dibawa ke rumah sakit dan dokter memvonisnya harus istirahat selama 6 bulan. Sial bagi Palermo. Namun, ternyata ada berkah buat Villarreal. Sebab, pertandingan itu akhirnya seri dan ditentukan lewat adu penalti. Villarreal akhirnya menang 5-4. Jika saja Palermo masih bermain, sangat mungkin dia akan menjadi salah satu pemain yang melakukan tendangan penalti. Jika demikian halnya, Villarreal bisa kalah. Sebab, Palermo sudah terkenal sial jika melakukan tendangan penalti, seperti di Copa America 1999.

sumber:kompas.com